Apiknya Kota Tua Galle

Bangunan apa lagi yang bersejarah selalu bisa menarik saya ke sebuah tempat. Mungkin ini juga yang menjadi alasan saya mampir sebentar ke Galle. Dari yang awalnya hanya ingin lihat-lihat, ternyata Galle membuat saya ingin tinggal di sana untuk beberapa hari. Jadi apa sih daya tarik Galle ini? Apa bedanya dengan Kandy yang juga merupakan kota budaya dan sejarah?

Saya mempunya empat hari sisa liburan di Sri Lanka, yang mana saya habiskan untuk bersantai di daerah selatan Sri Lanka. Bagian selatan tanah Ceylon ini memang dipadati oleh pantai-pantai eksotis, tujuan utama para turis Eropa. Namun tak hanya pantai, salah satu pesona kawasan selatan adalah Galle, kota tua bekas kolonial Belanda.

Dari empat hari, saya memutuskan 2 hari di pantai, 1 hari di Galle, dan 1 hari di Colombo. Dari sumber bacaan saya menemukan bahwa Galle adalah tempat yang sangat ‘touristy’ dan ramai, makanya saya memutuskan untuk tidak menginap di Galle. Saya menginap di kawasan Unawatuna Beach, salah satu pantai terkenal di Sri Lanka yang memiliki suasana santai.

Dari Unawatuna Beach, jarak ke Galle hanyalah sekitar 6-7 km. Bisa ditempuh dengan bus umum degan tarif sekitar Rs 50 dan waktu hanya 15 menit. Jadi menurut saya, menginap di Unawatuna bisa jadi pilihan yang tepat. Anda bisa naik bus apa saja, baik tujuan Galle maupun Colombo karena pasti mampir di terminal utama Galle. Nah dari terminal itu, kamu bisa jalan kaki ke dalam Fort, Galle.

Jadi Fort atau yang berarti benteng adalah kawasan kolonial utama dan spot wisata di Galle. Layaknya kota tua di Jakarta, Fort Galle ini merupakan bagian dari kawasan pemukiman, gedung-gedung bisnis, toko, kafe, restoran, penginapan, dan objek bersejarah tentunya.

Suhu di Sri Lanka relatif sama seperti di Indonesia, jadi siap-siap gosong kalau mau berkeliaran siang bolong. Saya sendiri yang jalan-jalan dari jam 9 pagi aja udah kepanasan. Jadi sedia payung kalau memang mau terhindar dari sengitnya matahari.

Saya sendiri gak punya agenda yang jelas di Galle, ya hanya ingin jalan-jalan saja. Dari yang saya baca, di Galle ada mercusuar yang masih berdiri kokoh. Itu saja, saya jalan mengikuti papan arahan menuju mercusuar. Memang saya memilih untuk menikmati Galle dengan santai. Satu lagi, saya juga ingin duduk-duduk santai di kafe atau makan cantik di salah satu restoran di sana.

Mercusuar atau Galle Fort Lighthouse terletak di ujung yang berarti dekat laut. Saya gak menduga kalau ada pantai bersih di dekat mercusuar itu, bahkan saya menemukan satu keluarga yang berenang dengan asiknya.

Entah sedang low season atau gimana, tapi sewaktu saya kesana di bulan Mei, suasana Galle begitu sepi. Sebelumnya saya berpikir kalau kawasan ini akan ramai dan tumpah ruah seperti Kota Tua Jakarta di akhir pekan, makanya saya gak jadi nginep di sini. Ternyata Galle melebihi ekspektasi saya. Kota tua ini bersih, bangunannya terawat, tidak begitu ramai, orang-orangnya ramah (tidak memaksa kalau lagi jualan), dan ada banyak galeri seni serta restoran dan kafe yang lucu.

Cara ke Galle

Gampang banget! Galle bisa dibilang salah satu kota terbesar di Sri Lanka. Juga menjadi destinasi utama, yang berarti aksesnya cukup mudah. Dari Colombo, kamu bisa naik bus umum. Ada banyak pilihan bus, mulai dari bus umum yang sangat murah (sekitar Rs 100) hingga bus ber-AC (dengan tarif sekitar Rs 600 dan lewat jalan tol jadi lebih cepet). Kamu juga bisa naik kereta, yang mana punya jadwal lebih pasti. Tapi intinya, kamu gak akan kehabisan ide kalau memang mau ke Galle dari Colombo.

11 tanggapan pada “Apiknya Kota Tua Galle”

  1. Pingback: Jalan-jalan ke Sri Lanka? Ini Persiapannya! – TRIP TO TRIP

  2. Pingback: Pantai Hikkaduwa Yang … – TRIP TO TRIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.