Efek Jalan-jalan ke Sumatera Barat

Kira-kira apa sih efek jalan-jalan ke Sumatera Barat? Pertanyaan ini terjawab ketika tiga tahun yang lalu saya jalan-jalan ke Padang, Sawahlunto, Bukittinggi, dan Payakumbuh selama beberapa hari. Sebuah destinasi yang menyajikan pemandangan alam cantik dan juga kuliner yang lezat. Ternyata semuanya kalau berlebihan akan membuat efek yang tak mengenakan.

Begitu tiba di Bandara Internasional Padang, saya langsung naik DAMRI menuju tengah kota dan langsung meluncur ke Sawahlunto dengan kendaraan umum. Singkat cerita, di sana saya menemui banyak makanan khas Suku Minang yang menggugah selera. Kegiatan jelajah kuliner makin menggila ketika saya kembali ke Padang dan Bukittinggi. Di mana saya bisa makan masakan khas minang yang berminyak dan banyak lemak, sehari sampai empat kali di tempat yang berbeda-beda.

Ditambah lagi, saya ditemani oleh Ikha, teman saya di Suara Mahasiswa yang waktu itu sedang bekerja di kota Padang. Dengan guide lokal, perjalanan kuliner jadi semakin lancar. Mulai dari Nasi Kapau sampai Sate Padang terkenal di Padangpandjang.

 

Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi-6
Nasi Kapau Ni Er di Bukittinggi
Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi-8
RM Family Benteng Indah
Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi-7
RM Family Benteng Indah- Spesialis Ayam Pop
Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi-3
Makan di RM Pagi Sore Padang
Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi-5
Nasi padang di Bukittinggi
Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi-9
Sate Mak Sukur di Padang Pandjang
Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi-4
Ada yang tahu ini minuman apa?
Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi-2
Es Duren Ganti Nan Lamo di Padang
Kuliner Sumatera Barat - by Febry Fawzi
Sate Padang di Sawahlunto

 

Selain makanannya yang tak bisa ditolak, entah kenapa cuaca ketika saya berkunjung sangat labil. Sering kali hujan dan kota-kota yang saya datangi punya suhu ekstrem. Mulai dari Padang yang panas dan Bukittinggi yang dingin.

Pulang dari padang, maka timbul lah radang. Sakit di tenggorokan yang sangat menyiksa disertai dengan demam membuat saya tobat untuk makan makanan padang selama beberapa hari. Yup.. tobatnya hanya beberapa hari saja :p

Intinya sih.. saya nulis postingan blog ini karena teringat betapa lucunya saya. Kalau diingat-ingat, main ke tanah Minang dengan sajian kuliner itu sangat menggetarkan imam. Lucu juga mengingat saya begitu kalap ingin mencoba ini-itu. Tapi semuanya sangat terbayar meski harus radang tenggorokan, flu, dan batuk-batuk setelahnya.

You may also like

10 Komentar

  1. masih penasaran dengan rasa gulai tambusunya, tiap sore hari menjelang berbuka puasa ini, sering banget nonton video tentang kuiner nasi kapau di youtube hahaha, semoga aman puasanya

  2. kayanya kegendutan juga bisa jadi salah satu efek jalan-jalan ke Padang dsk 🙂
    dulu kami mampir ke Sumbar setelah naik Kerinci, naik gunungya sehat tapi after climbingnya super ga sehat haha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.