Kembali Ke Habitat, di Lima Peru

Setelah saya bahas tentang panduan jalan-jalan di Lima, Peru dengan lumayan lengkap, kini waktunya saya menuliskan cerita perjalanan di Lima. Begitu mendarat di Bandar Udara Internasional Jorge Chaves, dengan semangat saya melenggang keluar imigrasi. Petugas imigrasi di Peru sangatlah ramah dan mudah. Tidak banyak tanya dan malahan sedikit mengajak bercanda. Setelah mendapatkan stamp imigrasi Peru, di dalam hati saya bilang “This is it, here we go Peru!”.

Traveling ke Peru ini merupakan salah satu ‘trip besar’ yang akhirnya terwujud. Setelah tahun 2016 lalu ke Sri Lanka, kali ini akhirnya bisa lagi melangkah dan melakukan sedikit ‘petualangan’. Tahun 2017 kemarin bisa dibilang saya lebih menyiapkan diri dan finansial untuk bisa tenang menetap di Seattle. Di awal tahun 2018, akhirnya baru bisa melenggang ke benua tetangga, yaitu Amerika Selatan.

Saat-saat mendarat di Lima

Saya tidak terlalu tergesa-gesa untuk meninggalkan bandara. Begitu keluar pintu kedatangan, saya sibuk mencari ATM BCP. Menurut saudara perblogan, Firsta, BCP adalah salah satu bank dengan biaya penarikan ATM terkecil namun mereka memiliki batas penarikan untuk turis asing setiap bulannya, yaitu 700 soles. Ya udah, saya tarik deh tuh 700 soles di ATM, 700 soles waktu itu sekitar 200 USD. Meskipun saya membawa uang tunai 300 USD, saya berpikir uang tersebut sebagai uang jaga-jaga, kalau-kalau nanti gak bisa narik uang atau berada di kawasan yang tak punya ATM. Oh iya, sekedar informasi tambahan, banyak tempat di Peru yang menerima uang USD. Kamu juga bisa kok bayar hotel dengan uang USD.

Cerita Perjalanan di Lima
Di dalam taksi, dari bandara di Lima menuju Centro District.

Bandara di Lima memang tidak terlalu besar namun cukup nyaman dan lengkap. Ketika berjalan-jalan di sana, saya melewati toko cokelat yang memutar lagu Tom Misch, artis asal London yang saya sukai. Kemudian saya kembali berjalan ke terminal kedatangan karena di sana banyak terdapat taksi. Sesuai riset, taksi yang terpercaya adalah Green Taxi. Mereka memang tidak menggunakan argo namun tarifnya menurut saya cukup rasional. Oh iya, jangan kaget kalau ternyata mobilnya Green Taxi tidak ada hijau-hijaunya sama sekali, malahan wujudnya seperti mobil pribadi.

Kali ini saya hanya akan menginap satu malam di Lima, kemudian besoknya saya akan terbang ke Cusco. Berhubung hanya akan menginap semalam, saya memilih kamar dormitory di hostel di kawasan Centro. Kawasan ini merupakan kawasan bersejarah, ya sama seperti kawasan Kota Tua di Jakarta. Banyak bangunan tua, bangunan pemerintahan, pecinaan, dan kawasan ini bukan kawasan elit serta lebih terkesan berantakan dan kurang asri.

Bandara Lima terletak di kawasan bernama Callao, mirip dengan Soekarno Hatta Airport, letakya di luar Lima, namun tidak terlalu jauh. Kawasan Callao ini ternyata kawasan paling rawan kejahatan seantero Metro Lima. Jadi pilihan taksi atau airport shuttle merupakan pilihan yang tepat. Sepanjang perjalanan saya berasa balik ke Jakarta, habitat saya. Di mana kendaraan bermotor berbagai roda saling serobot dan suara klakson di mana-mana. Di US, hampir jarang mendengar klakson dan lalu lintasnya cukup rapih.

Lima juga selalu terang benderang, berbeda dengan Seattle yang lebih sering mendung. Entah karena matahari atau karena saya jalan-jalan di tempat baru, saya sangat semangat dan sumringah. Perjalanan dari bandara ke Centro tidak begitu jauh, hanya memakan waktu 45 menit. Begitu tiba, saya langsung mencari penginapan saya, namanya 1900 Backpacker Hostel. Kalau dilihat di foto, terlihat bangunannya besar dan megah, ternyata hostel ini masuk lagi ke dalam dan pintu masuknya pun sangat tersembunyi. Saya malah masuk ke toko fotokopian dan kemudian diarahkan ke pintu di sebelah toko ini.

1900 Backpacker Hostel ini menurut saya cukup unik sih, mereka memakai bangunan tua yang masih bagus dan direnovasi serapih mungkin. Rasanya hampir semua kamarnya adalah kamar dormitory dengan langit-langit yang tinggi dan pintu serta jendela yang rasanya masih asli dari tahun 1900 haha. Kalau saya menginap sendiri di sini rasanya cukup horor, untungnya kamar yang saya tempati itu penuh, yaitu diisi oleh 6 orang.

Begitu check in, saya langsung memesan taksi untuk keesokan harinya karena saya harus sampai di bandara pukul 13.00. Hostel ini juga memiliki kegiatan gratis yang diadakan setiap hari, misalnya walking tour di kawasan bersejarah dan juga kelas memasak ceviche. Sayangnya, jadwalnya tidak cocok dengan jadwal saya, lagi pula saya tak masalah jika harus eksplor kawasan Centro Lima sendirian. Waktu check in, saya juga menanyakan bagaimana cara mendapatkan SIM Card, ternyata di dekat 1900 Backpacker Hostel ini ada sebuah mall yang punya banyak gerai operator.

Hari pertama saya di Lima, Peru, lebih banyak dihabiskan untuk mempersiapkan trip di Peru ini agar lebih nyaman. Selain mendapatkan sim-card, saya juga berkomunikasi dengan Firsta yang pada hari yang bersamaan sudah tiba di Cusco. Rencananya kami akan bertemu keesokan harinya di sana. Firsta juga membantu saya dalam hal memesan tiket masuk ke Machu Picchu.

Sore hari di Lima pada jam-jam pulang kantor sangat lah sibuk. Sangat mirip seperti di Jakarta. Kemacetan dan rumitnya moda transportasi membuat saya mengurungkan niat untuk pergi ke distrik lain untuk mencicipi kuliner khas Lima. Cerita perjalanan di Lima pada hari pertama ini ditutup dengan belanja keperluan pribadi seperti beli sandal jepit, air, dan makanan ringan di swalayan, kemudian makan malam di Chifa, rumah makan khas Tiongkok-Peru. Hari pertama di Lima membuat saya terasa kembali ke habitat saya di negara tropis. Suasana dan suhu udara di Lima membuat saya teringat rumah 🙂

You may also like

2 Komentar

  1. Gue kalo jadi lu (migrasi ke luar negeri) juga akan menghabiskan setahun pertama, bahkan mungkin lebih, buat settle dan mengeksplor kota sendiri dengan kota-kota sekitarnya.

    Sekarang Bandara Soekarno-Hatta udah much better, Feb. Udah ada skytrain sama kereta bandara 🙂
    Dari Bandara Lima sama sekali nggak ada bus yang reliable gitu?

    1. Iya ya, eksplor si kotanya dulu mumpung belum bosan. Setiap hari terasa jalan-jalan hehe

      Juli tahun ini gue balik ke Indo kok terus nyobain kereta bandara deh.. ya B aja sih, cuma ya baru aja ya kesannya. Sayang kita mesti ke stasiun kereta dulu dan jalannya agak jauh, apa karena berasa banget ya panasnya pas keluar Soekarno-hatta? haha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.