Jalan Kaki di Kota Tua Lima, Ini Rutenya!

Hari kedua di Lima saya dedikasikan untuk wisata sejarah di Centro Lima. Bermodalkan informasi dari Lonely Planet, saya menemukan rute berjalan kaki atau walking tour di Lima yang kurang lebih mencakup situs-situs bersejarah di Lima. Kawasan Centro Lima ini menurut saya mirip dengan kawasan Kota Tua di Jakarta, hanya saja, Lima punya kawasan bersejarah yang lebih luas. Bicara mengenai sejarah di Lima rasanya tak bisa lepas dari kolonialisme Spanyol, satu yang paling mudah dirasakan, selain bahasa tentunya, adalah gereja-gereja katolik dan jenis bangunannya.

Saya sangat menikmati jalan kaki di kawasan Centro Lima ini. Mayoritas jalan memiliki trotoar yang cukup, beberapa jalan juga satu arah jadi tidak terlalu sibuk. Untuk masalah keamanan, menurut saya mirip-mirip dengan Jakarta, harus tetap waspada dan hindari kawasan yang mencurigakan.

Lima Walking Tour

Rute perjalanan ini kurang lebih memakan waktu sekitar 2 jam, sebenarnya bisa cepat tapi saya banyak berhenti dan foto-foto tentunya. Lima walking tour ini cocok dilakukan di pagi hari atau sore karena cuaca di Lima cukup terik. Berikut ini rute Lima Walking Tour saya:

Hostel 1900 Backpacker

Penginapan yang saya inapi ini sendiri merupakan bangunan tua yang disulap menjadi hostel gaul. Berhubung hostel, jadi saya menginap di kamar dengan tipe tempat tidur bunk bed. Bangunan tua dan bunk bed membuat saya merasa seperti tinggal sebagai tentara di zaman dahulu.

Plaza San Martin

Dari Hostel 1900 Backpacker, saya berjalan kaki menuju Plaza San Martin. Kira-kira cukup berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Kebetulan saya banyak berhentinya karena terpukau dengan sudut-sudut jalan yang cantik. Plaza San Martin ini sendiri merupakan sebuah plaza yang menarik dan sangat touristic. Plaza ini diberi nama sesuai dengan ‘proklamator’ Peru yaitu Jose de San Martin. Bisa lihat sendiri pada foto di atas, terdapat patung San Martin yang sedang menaiki kuda di titik tengah plaza. Di bawahnya, jangan sampai lupa untuk menengok patung perunggu Madre Patria, sebuah simbol dari Ibu-nya Peru.

Kebetulan saya berangkat dari hostel tanpa sarapan dan memang tujuan saya pagi itu adalah untuk mencari sarapan khas Lima. Ada satu warung makan yang pegawainya ramah banget, padahal saya masih lihat-lihat menu di luar namun mereka mengajak saya masuk dan lihat menunya di dalam. Akhirnya saya lihat menunya dan .. semuanya dalam bahasa Spanyol. Untungnya saya punya internet jadi bisa cari tahu. Pagi itu saya memesan sandwich berisi telur dan juga semacam ‘carnes asada’ (tumis daging sapi). Uniknya ketika saya memesan kopi, mereka membawa satu botol minuman berwarna hitam yang ternyata adalah kopi, rupanya mirip cold brew, dan segelas penuh susu hangat.

Gran Hotel Bolivar

Di bagian sebelah barat Plaza San Martin, kamu bisa melihat Gran Hotel Bolivar. Bangunannya cantik, dibangun pada tahun 1924. Katanya sih hotel ini terkenal dengan minuman pisco cocktails nya. Ternyata harga menginap di Gran Hotel Bolivar cukup terjangkau loh! Begitu juga dengan hotel-hotel lainnya di Lima. Coba deh cek harga hotel di Lima via Wego.

Jiron de la Union

Rasanya sulit untuk bisa kelewatan jalan yang satu ini. Jiron de la Union merupakan sebuah jalur pejalan kaki yang cukup luas. Dipagari dengan toko-toko, mayoritas toko sepatu (termasuk Bata) dan bioskop. Jalan-jalan di sini berasa seperti jalan di Pasar Baru.

Iglesia de la Merced

Tak lama berjalan di Jiron de la Union, kamu akan menemukan sebuah gereja katolik yang iconic dan dramatis, yaitu Iglesia de la Merced. Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1541. Dengan gaya baroque-nya, gereja ini berdiri di atas tanah tempat pertama kali diadakan misa di Lima. Jangan lupa mampir ke dalam gereja ini ya! Menurut saya sangat impresif. Akan ada banyak gereja menawan dan dramatis di Peru, menurut saya Iglesia de la Merced ini merupakan pembukaan yang menarik.

——

Gereja San Agustin

Dalam perjalanan saya menuju Plaza de Armas dan La Catedral de Lima, saya malah tergoda untuk mengeksplor kawasan kota tua Lima yang lain. Ada satu lagi geraja yang saya datangi yaitu Gereja San Agustin. Kemudian saya mencoba mencari jalan terdekat untuk menuju katedral dan Plaza de Armas namun banyak sekali jalan ditutup dan dijaga ketat oleh aparat keamanan. Ketika saya tanya, apakah saya bisa berkunjung ke katedral, petugasnya bilang sedang ada penjagaan ketat dan saya tidak dibolehkan masuk, saya disuruh berkunjung di lain waktu. Rupanya kawasan ini merupakan kawasan penting karena terdapat semacam istana negara-nya Peru.

Yup.. memang mengesalkan, namun mau gimana lagi? Untungnya kawasan Centro ini tak hanya sekedar katedral dan Plaza de Armas. Menurut saya, jika kamu mencari konten Instagram, kamu harus memanfaatkan warna-warni dinding bangunan-bangunan tua di sini sebagai backdrop photo. Buat kamu yang gak suka foto, kamu bisa mencicipi kuliner, misalnya ceviche atau makanan chifa (makanan khas China-Peru). Selain itu, mengamati orang-orang atau berbelanja di pasar juga menjadi aktivitas seru di sini.

Sayangnya saya tidak memiliki banyak waktu karena saya mesti check-out dan pergi ke bandara. Akhirnya dengan jalan cepat, saya kembali ke hostel. Sepertinya kawasan kota tua di Lima ini baru ramai sekitar jam 11 siang, jadi buat kamu yang mau menghindari keramaian, sebaiknya jalan-jalan sebelum jam 11. Lagi pula, selepas jam 10 pagi, matahari di Lima begitu terik.

Jika kamu punya waktu, sebaiknya sempatkan main ke beberapa tempat ini dan tentunya kalau kawasan Plaza de Armas dan sekitarnya tidak ditutup ya:

  • Plaza de Armas
  • La Catedral de Lima
  • Palacio Arzobispal
  • Palacio del Gobierno
  • Monasterio de San Francisco
  • Plaza Bolivar
  • Chinatown

Lima merupakan pusat pemerintahan, bisnis, dan kebudayaan di Peru. Tak hanya Roma, ada pula banyak cara menuju Lima. Salah satunya, kamu bisa mengambil penerbangan ke Lima dari Jakarta via Amsterdam. Ada banyak alternatif penerbangan menuju Lima. Saran saya, kamu bisa coba cari harga tiket termurah ke Lima via Wego.

You may also like

2 Komentar

  1. Gue bakal sama kayak lu, Feb. Bakal banyak berhenti buat foto-foto dan duduk-duduk menikmati sudut kota. Dari foto-foto lu sih, kesannya Lima masih lebih bersih dari Jakarta.

    Eh, jadi itu kopinya disajikan dingin apa gimana? Standar penyajiannya seperti itu ya?

    1. Lima emang terkesan lebih bersih dan ‘teratur’ sih dari pada Jakarta. Mungkin karena populasi orangnya lebih sedikit kali ya?

      Btw kopinya gak dingin dan gak panas, kayaknya gak ditaro di kulkas deh, tapi susunya anget, jadi ya… mayan deh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.