Machu Picchu Adalah Mimpi Yang Terwujud

Machu Picchu adalah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru (New 7 Wonders of the World). Machu Picchu adalah kebanggaan warga Peru. Machu Picchu adalah mimpi saya yang terwujud. Ketika kamu bilang bahwa kamu akan ke Peru, pertanyaan pertama yang muncul adalah “Ke Machu Picchu gak?”. Tentunya.. ketika pertama kali merencanakan perjalanan ke Peru, Machu Picchu adalah sebuah keharusan di dalam itinerary perjalanan saya ke Peru.

Sebelum pukul 6 pagi saya sudah bangun, packing, kemudian sarapan di hotel. Semalaman saya tidur nyenyak karena didongengi oleh deru Sungai Urubamba dan suhu udara sejuk di Aguas Calientes. Di luar terlihat langit yang kelabu dan sedikit gerimis. Siap tak siap, saya harus segera berangkat ke terminal bus untuk menuju Machu Picchu.

Rute berjalan kaki menuju Machu Picchu

Selain naik bus, kamu juga bisa berjalan kaki sejauh 9 KM namun bisa memakan waktu sekitar dua setengah jam karena jalanannya yang menanjak. Berhubung cuaca tidak memungkinkan dan saya ingin memaksimalkan waktu di Machu Picchu, jadi lah saya naik bus untuk sampai di pintu masuk Machu Picchu. Sebelumnya, kamu sudah harus membeli tiket masuk ke Machu Picchu karena ada batas pengunjung harian. Sekitar 4000 tiket, dibagi menjadi dua shift, pagi dan sore.

Machu Picchu adalah sebuah misteri. Setidaknya, situs bersejarah ini baru ditemukan dan dijelajahi pada tahun 1911 oleh sejarawan Amerika Serikat, Hiram Bingham. Ketika ditemukan, situs Machu Picchu dipenuhi tumbuhan liar, membuat tim Hiram Bingham cukup kesulitan. Akhirnya pada 1912 dan 1915, dia mulai membersihkan tebalnya hutan yang hidup di Machu Picchu. Pada saat yang bersamaan, dia pun berhasil memetakan beberapa reruntuhan yang kini disebut sebagai Inca Trail. Bicara mengenai Hiram Bingham, awalnya misi sejarawan ini adalah untuk menemukan ‘the lost city of Vilcabamba’, yang mana mempunyai peranan penting dalam sejarah suku Inca. Ketika menemukan Machu Picchu, mas Hiram ini mengira sudah menemukan si kota yang hilang tersebut. Nyatanya, dia masih mempercayai fakta ini hingga dia meninggal. Namun sebenarnya, kota yang hilang tersebut adalah reruntuhan di Espiritu Pampa, berlokasi di hutan yang lebih dalam. 

Tak ada sejarah kongkrit mengenai apa itu Machu Picchu. Hingga kini, arkeologis masih bergantung pada spekulasi mengenai fungsi dari Machu Picchu. Beberapa percaya bahwa tempat ini merupakan tempat kejayaan dari Inca, sementara lainnya percaya bahwa tempat ini merupakan istana atau villa untuk kerajaan yang terlupakan pada masa invasi Spanyol. Namun ada satu hal yang jelas saat melihat dari kualitas bangunan dan banyaknya ornamen di Machu Picchu, bahwa Machu Picchu memegang peranan penting sebagai pusat perayaan.

Bagaimana cara ke Machu Picchu
Pemandangan dari bus menuju Machu Picchu

Kembali ke perjalanan saya menuju Machu Picchu, saya sudah duduk manis di dalam bus menuju Machu Picchu pada pukul 6 pagi. Perbukitan di sekitar Aguas Calientes masih diliputi kabut, jalanan becek, dan moistur udara terasa lembab namun menyegarkan. Bus mulai jalan dari pos pemberhentian. Di sepanjang jalan ada beberapa pelancong yang berjalan kaki. Tak lama, jalanan mulai mendaki dan berkelok-kelok. Pada titik-titik tertentu, bus kami harus mengalah dan melipir sebentar untuk mempersilakan bus dari arah atas menuruni bukit. Pemandangan tak berhenti menarik perhatian saya. Kebetulan saya sedang mendengarkan musik dari film The Motorcycle Diaries, film yang menginspirasi perjalanan saya ke Amerika Selatan. Ada satu lagu yang hanya permainan instrumen, De Ushuaia A La Quiaca, oleh salah satu master musik Gustavo Santaolalla. Saat melihat pemandangan perbukitan hijau yang menjulang tinggi, diliputi kabut tipis, dan dibagi oleh sungai Urubamba yang berkelok-kelok, di situ saya meneteskan air mata. Momen yang sangat emosional buat saya. Perjalanan hanya sekitar 30 menit namun terasa seperti perjalanan sepanjang hidup, bukan siksaan, lebih pada menikmati setiap sepersekian detiknya.

Sesampainya di pintu gerbang, ternyata saya, Firsta, dan Nico bukan satu-satunya orang yang antusias untuk datang pagi ke Machu Picchu. Meskipun cuaca pagi itu mendung namun ada sekitar ratusan orang sudah mengantre masuk. Pintu masuk Machu Picchu hanya ada satu dan antrean mulai mengular. Kami bergantian mengantre dan ke toilet selagi bisa karena ternyata di dalam tidak ada toilet. Lautan manusia sempat membuat saya pasrah namun ternyata hanya butuh 15 menit untuk mengantre masuk. Ketika sudah masuk ke dalam kawasan arkeologi Machu Picchu, pemandangan tak begitu dipenuhi manusia, malah terkesan lowong.

Berhubung untuk sampai ke Machu Picchu dan tiket masuknya itu merogoh kocek yang cukup dalam, jadi saya benar-benar ingin memanfaatkan waktu saya di sana. Awalnya saya ragu karena kompleksnya tidak terlalu besar, untungnya saya mendapatkan jatah tiket masuk ke Huayna Picchu. Tiket ke Huayna Picchu ini dibatasi sekitar 400 orang per hari, dibagi menjadi dua jadwal, jam 7 – 8 pagi dan jam 10 – 11 pagi. Jadi masing-masing jadwal hanya tersedia 200 tiket masuk. Untuk jam masuk sendiri, kamu harus masuk ke area tersebut pada jam yang ditentukan.

Saya memutuskan untuk tidak menggunakan tour guide karena saya ingin bebas mengeksplor kawasan ini. Sejarah memang penting, tapi kali ini saya ingin benar-benar merasakan suasana tempat ini dengan cara yang emosional.

Meskipun terlihat kecil namun mengeksplor Machu Picchu cukup menguras napas dan juga waktu. Berhubung Machu Picchu masih berada di 2420 mdpl, maka ada baiknya kamu melakukan penjelajahan dengan cara pelan-pelan.

Baca juga: Jalan-jalan ke Peru, Ketahui Dulu Tentang Altitude Sickness

Machu Picchu adalah mimpi saya yang terwujud. Tak banyak hal bisa saya ceritakan di sini, mungkin foto lebih bisa menceritakan pemandangan Machu Picchu ketika saya datang.

Sekitar 3 jam saya habiskan untuk mengeksplor kawasan arkeologi Machu Picchu. Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan ke Huayna Picchu. Pendakian kecil ini cukup menjadi highlight perjalanan saya ke Peru. Tunggu ceritanya ya!

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.