Sesaat Sebelum Pandemi

Pada bulan Januari 2020, dunia digegerkan oleh berita virus corona baru yang mewabah di Wuhan, China. Meskipun kasusnya sudah cukup besar di Wuhan namun akses perbatasan negara-negara dunia masih sangat santai. Kebetulan saya punya beberapa rencana perjalanan di bulan February 2020. Bagaimana traveling sesaat sebelum pandemi?

January 2020 saya sudah tinggal di Seattle, Amerika Serikat. Tak lama dari berita wabah di Wuhan, ternyata sudah ada satu orang yang terinfeksi di Amerika Serikat. Ironisnya, satu orang terinfeksi ini berlokasi di Seattle Metro, yaitu di Everett. Ibaratnya kalau Seattle itu Jakarta, Everett adalah Bekasi-nya.

Bicara mengenai virus corona baru atau yang sekarang dikenal sebagai Covid-19, ada banyak ketidaktahuan mengenai virus ini. “Katanya, katanya, katanya”. Terlebih di awal-awal wabah yang kemudian menjadi epidemi, dan tak lama kemudian menjadi pandemi. Setelah kasus Covid-19 ini disebut sebagai pandemi, saya sudah tidak bisa/tidak mau traveling lagi terutama yang menggunakan pesawat. Namun jika kasus pandemi ini diumpamakan sebagai lampu merah untuk para traveler, saya sempat meluncur melewati rambu lalu lintas ini ketika lampunya masih berwarna kuning.

Rute Terbang di awal February

Untuk memperingati hari ulang tahun, saya punya rencana jalan yang cukup ekstrem. Minggu pertama dihabiskan di Alaska pada saat musim dingin! Kemudian minggu kedua dan ketiga dihabiskan di Amerika Selatan (kawasan tropis). Jadi saya sempat mencicipi suhu -35°C di Fairbanks, AK dan 30°C di Medellin, Colombia dalam minggu yang sama.

Bagaimana Traveling Sebulan Sebelum Pandemi?

Covid-19 diumumkan sebagai pandemi oleh WHO pada 11 Maret 2020. Sebulan sebelum Covid-19 diumumkan sebagai pandemi, saya sudah punya rencana traveling baik domestik maupun internasional. Saat saya akan terbang ke Anchorage, saya ingat beberapa penumpang sudah mulai awas akan virus baru ini.

Sudah kebiasaan buat saya untuk mengenakan masker di dalam pesawat. Selain paranoid, saya suka mengenakan masker di penerbangan karena membuat udara yang saya hirup jadi lebih hangat dan lembab. Selain itu, menggunakan masker juga menutupi mulut saya ketika saya tertidur di pesawat . Oh iya! kadang di dalam pesawat tuh suka bau. Entah bau badan orang sekitar atau toilet yang kotor dan baunya menyeruak di dalam pesawat .

Selain masker, saya lebih ekstra bersih di dalam pesawat. Menyiapkan hand sanitizer. Selain itu juga membersihkan tray dan tempat duduk dengan alcohol wipes.

Ada kejadian lucu dan mengesalkan. Ketika saya sudah pakai masker dan ekstra bersih, cabin crew Alaska Airlines berdiri di sebelah saya untuk menanyakan mau minum apa saat penerbangan. Eh.. ketika dia ngomong, malah muncrat dan jatuh ke mata saya! Ya bagaimana sih!?? Kesel tapi lucu karena bagaimana pun, itu adalah cara utama dalam penularan Covid-19 kan??

Aurora Borealis di Fairbanks, Alaska

Travel domistik di AS masih biasa-biasa saja. Bagaimana dengan travel internasional?

Setelah dari Alaska, saya balik ke Seattle dulu. Hanya semalam untuk laundry pakaian dan melemaskan sendi-sendi yang ekstra digunakan untuk berjalan di tumpukan salju.

Destinasi selanjutnya adalah Medellin, Colombia. Penerbangan dari Seattle ke Medellin membutuhkan waktu sekitar 12 jam termasuk transit di Mexico City. Saya terbang dengan AeroMexico ke Bogota dan dilanjutkan dengan Avianca ke Medellin. Saya sudah pernah terbang dengan AeroMexico sebelumnya. Yah standar maskapai non-budget namun juga non-full service. Beberapa penumpang ada yang pakai masker namun hanya sedikit. Pada awal February 2020, kasus Covid-19 masih belum terdengar di kawasan Amerika Latin. Saya merasa aman bepergian di sana. Malah saya berpikiran untuk tidak pulang dan karantina saja di Ekuador .

Situasi di Kolombia & Ekuador Sebulan Sebelum Pandemi

Pada bulan February 2020, saya sudah 7 bulan tidak pulang ke Indonesia. Sebenarnya kalau tidak ke Amerika Selatan, saya kepikiran untuk pulang ke Indonesia namun sempat khawatir karena mesti transit di kota-kota Asia Timur yang pada saat itu sudah mulai masuk wabah Covid-19. Akhirnya saya merasa lebih aman untuk bepergian ke Kolombia dan Ekuador.

Cocora Valley

Saat saya memasuki antrean imigrasi di Bogota, sudah ada pamflet mengenai informasi Covid-19. Sudah dijelaskan bagaimana virus baru ini menyebar dan bagaimana cara mencegahnya. Namun antrean imigrasi belum dikasih jarak 2 meter atau kalau di AS berjarak 6 kaki. Kamu juga mesti mendeklarasikan diri jika kamu pernah ke Tiongkok dalam waktu 2 minggu terakhir. Oh iya, entah ini sudah jadi protokol sehari-hari atau hanya saat wabah Covid-19 ini, tapi sudah ada kamera suhu tubuh sebelum memasuki antrean imigrasi.

Selama di Kolombia dan Ekuador, orang-orang sekitar masih hidup normal dan saya tidak mendengar orang-orang sekitar saya membicarakan tentang Covid-19. Asumsi saya, mereka santai-santai saja karena memang lokasinya jauh dari pusat wabah yaitu di Tiongkok dan kawasan sekitar.


Saya pulang ke Seattle pada tanggal 26 February 2020. Ketika tiba di AS, saya mendengar sudah bermunculan kasus Covid-19 ini di Brazil dan beberapa negara Amerika Latin. Sesaat kemudian, Seattle menjadi pusat wabah Covid-19 di AS. Pada 11 Maret 2020, WHO mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi. Kemudian kasus di Italia dan Eropa membesar. Border US-Canada juga ditutup ketika wabah di AS menggila. Di sini saya berpikir “apa sebaiknya saya tidak balik ke AS dan tinggal di Ekuador ya?” lalu tak lama setelah mengucap hal tersebut, saya melihat video tentang kasus Covid-19 di Ekuador yang sangat mengenaskan. Lalu saya tak jadi berharap demikian.

Mitad del Mundo

Kini AS tetap menjadi penyumbang pertama angka kasus Covid-19 di dunia. Saya tidak bisa pulang ke Indonesia saat libur lebaran kemarin, pun tidak bisa kemana-mana karena paspor Indonesia dan tinggal di AS sangat menyulitkan untuk bisa singgah di banyak negara. Tapi bukan itu yang saya khawatirkan. Meskipun kaki saya sudah gatel untuk bisa terbang lagi namun saya yang cukup paranoid juga tidak akan nyaman kalau memang bisa bepergian.

Saya sangat bersyukur sudah bisa bepergian sesaat sebelum pandemi. Perjalanan di atas sudah sangat menyegarkan pikiran dan menambah perspektif saya akan banyak hal. Semoga dunia bisa segera pulih dan kita dijauhkan dari virus menyebalkan ini. Sehat selalu teman-teman!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.